Kamis, 06 Juni 2013

Meditasi Buddha



Oleh  :
Haerunnisa Musakkir Aladin

1.      Pengertian Meditasi
            Meditasi adalah membiasakan diri kita agar senantiasa mempunyai sikap yang positif, realistis, dan konstruktif. Dengan bermeditasi kita dapat membangun kebiasaan baik dari pikiran kita. Meditasi dilakukan dengan pikiran, artinya meskipun kita duduk dengan sikap sempurna, melaksanakan meditasi dalam waktu yang cukup lama, naming pikiran kita berlari kesana kemari dengan liar, dan memikirkan objek-objek kemelekatan, itu bukanlah meditasi.
Dengan meditasi kita akan dapat mengalihkan pikiran dan pandangan kita sedemikian rupa sehingga kita lalu menjadi lebih berwelas asih, cinta kasih dan kita lalu mengerti tentang hakekat dari kenyataan kehidupan ini.
            Dengan melaksanakan meditasi kita akan dapat menumbuhkan kebiasaan baik dari pikiran dalam meditasi, tingkah laku sehari-hari kita juga akan berubah. kebbencian, keserakahan, rasa iri hati yang membara didalam diri kita, dapat kita taklukan, kita lalu menjadi tenang, merasa puas dan berterima kasih, tidak lagi resah dan gelisah, dan frustasi.[1]

2.      Macam-macam Meditasi Budha
            Meditasi Buddhis ada dua macam yakni,  sebagai berikut:
1.      Meditasi Samatha-Bhavana yakni meditasi untuk mencapai keterangan hidup. Dalam abad nuklir ini, dimana kehidupan terasa semakinkeras dan kompleks, memang sangat dibutuhkan meditasi samatha bhavana ini, untuk menghilangkan stress, frustasi dan untuk menciptakan ketenangan batin.
2.      Meditasi Vipassana-Bhavana, yakni mediatsi yang dapat membersihkan kekotoran bathin dan pikiran secara total, sehingga kita dapat mencapai pandangan terang.[2]

3.      Tujuan Meditasi
            Meditasi Buddhis pada dasarnya berkaitan dengan dua tema: mengubah pikiran dan menggunakannya untuk mengeksplorasi dirinya sendiri dan fenomena lain.Sang Buddha sejarah sendiri, Siddhartha Gautama, dikatakan telah mencapai pencerahan saat bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
            Yang pertama terdiri dari praktek bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk memfokuskan perhatian tunggal-tajam, yang terakhir termasuk praktek-praktek bertujuan untuk mengembangkan wawasan dan kebijaksanaan melalui melihat sifat sejati dari realitas.[3]
           
4.      Vipassana Bhavana        .
Vipasasana berarti melihat benda-benda dalam keadaan sebenarnya. Kontenplasi tentang tiga hal yang karakteristik:
a.       anicca berarti tidak adanya kekakalan kelanggengan
b.      Dukkha berarti penderitaan
c.       Anatta berarti tidak adanya jiwa[4]
Vipassana membawa kita kepada tingkatan arahat. dengan konsentrasi kita dapat membangkitkan enam tingkatan kegaiban.
1.      Mata dewa yang dapat menjauh
2.      Pendengaran dewa yang dapat mendengar sesuatu yang lain orang tidak dapat mendengarnya.
3.      dapat melihat dan mengetahui kehidupan-kehidupan yang lampau.
4.      Dapat membaca pikiran-pikiran orang lain
5.      Mempunyai kekuatan-kekuatan psichis (gaib)
6.      Dapat mempunyai pengetahuan yang luar biasa dan bijaksana mengenai penghancuran dan nafsu-nafsu dan tercapainya tingkat arahat.[5]
Untuk melaksanakan pelajaran dari sang Buddha, bagi tiap-tiap orang adalah yang terpenting sekali memelihara dan mengembangkan dalam dirinya tentang kebijaksanaan dari Sila, Samadhi, dan Panna. Orang seharusnya tidak ragu-ragu lagi untuk memiliki tiga macam kebijaksaan itu.
Sila, adalah suatu pengekangan diri, atau tali kendali diri, untuk orang-orang biasa adalah Panca-Sila sebagai ukuran yang minimum. untuk para Bhikksu ialah peraturan dari Patimokha-Sil. orang-orang yang telah taat menjalankan Sila itu akan dilahirkan kembali dalam kehidupan berbahagia sebagai manusia atau sebagai dewa. Tetapi bentuk yang biasa dari Lokiya-Sila itu, tidak dapat menjamin seseorang terhadap kemunduran atau terhadap jatuh kembali dalam keadaan yang lebih rendah, atau kedalam kehidupan yang lebih buruk.
Jika seseorang telah dapat menjalankan Sila ini dengan sempurna, maka ia akan terjamin, dan tidak dapat jatuh lagi kedalam keadaan yang lebih rendah, dan ia akan selalu terpimpin kedalam kehidupan yang lebih berbahagia, lahir sebagai manusia atau sebagai dewa. Maka itu tiap-tiap orang harus menetapkan suatu tujuan didalam kewajibannya untuk menjalankan Lokuttara-Sila itu.
Tidaklah cukup kalau mengerjakan Sila saja: adalah perlu juga menjalankan Samadhi. Samadhi adalah pemusatan dan ketenangan dari pikiran. Pikiran yang biasa atau pikiran yang tidak terkendalikan, adalah keadaan berkelana ketempat-tempat lain; tidak dapat dikontrol terus, ia selalu mengikuti bermacam-macam cita-cita, bentuk-bentuk pikiran, bayangan-bayangan dan lain-lainya. Untuk mencegah berkelananya pikiran itu, maka pikiran tersebut harus ditujukan kepada objek Samadhi yang telah ditentukan.
Samadhi terdapat dua macam, yaitu:
1.      Lokiya Samadhi
2.      Lokuttara Samadhi
kedua-duanya ini adalah praktek Samatha Bhavana, yaitu: Anapana, Mettana, Kasina, dan lain-lainnya, yang dapat membawa kita kedalam perkembangan dari keadaan Lokiya Yhana, seperti empat Rupa Yhana dan empat Arupa yhana, yang menyebabkan orang dapat dilahirkan dialam Brahma.
Kehidupan dalam Brahman itu berlangsung sangat lama, ada yang lamanya satu kalpa, dua, empat, delapan dan seterusnya sampai batasnya delapan puluh empat ribu maha kalpa, menurut segala kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Tetapi kehidupan seorang Brahma itu juga menemui kematian, dan akan lahir kembali sebagai manusia atau dewa. Kalauia menjalankan kehidupan yang becik sepanjang masa, maka ia akan mendapat kebahagiaan didalam kehidupan yang lebih tinggi. tetapi, jika ia belum bebas dari kekotoran (kilesa), maka sewaktu-waktu ia dapat terjerumus dalam melakukan perbuatan-perbuatan yang cemar (rendah).
Lokiya Samadhi masih belum sempurna. Karena itu, sebaiknya kita menjalankan Lokuttara Samadhi, yang tidak lain dari Mangga Samadhi dan Phala Sanadhu, Untuk dapat menjalankan Samadhi ini penting sekali kita harus memelihara Panna, yaitu Kebijaksanaan.
maka terdapatlah dua macam Panna, yaitu: Panna dan Lokuttara Panna. Pada jaman sekarang, pengetahuan-pengetahuan dari kesusteraan, kesenian, ilmu pengetahuan atau kemajuan keduniaan seperti sekarang, biasanya doanggap sebagai Panna. Tetapi bentuk Panna ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bhavana (perkembangan hidup). Pun tidak dapat dianggap sebagai suatu kebahagiaan yang sejati, sebab semua alat senjata yang diapakai untuk menghancurkan manusia, adalah berdasarkan inspirasi dari ilu pengetahuan duniawi ini.
Arti dari Lokiya Panna sebenarnya, kalu ditinjau dari segala sudut lainnya, hanyalah kebahagian, dan tidak ada penderitaan dalam bentuk apapun juga. Ilmu pengetahuan didalam organisasi yang baik dan bebas, yang dijalankan dengan tidak menimbulkan penderitaan, yaitu belajar untuk mencapai pengetahuan dari kebenaran atau menyelidiki naskah-naskah, dan mempelajari tiga tingkatan pengetahuan didalam Vipassana Bhavana, yaitu:
1.      Satu-maya-panna, ialah pengetahuan yang berdasarkan atas belajar.
2.      Cinta-maya-panna, ialah pengetahuan yang berdasarkan atas berfikirn dan
3.      Bhavana-maya-panna, ialah pengetahuan yang berdasarkan atas perkembangan batin adalah Lokiya Panna. Pahala dari memiliki Lokiyana Panna, ialah seseorang akan mendapatkan kebahagiaan didalam kehidupan yang lebih tinggi, tetapi tidak dapat mencegah resiko-resiko dalam kelahiran kembali dineraka atau dialam kehidupan yang lebih rendah dan sengsara.[6]
Bagaimana caranya kita mengembangkan pandangan terang?” Jawabannnya adalah,” Kita mengembangkan pandangan terang dengan bermeditasi terhadap lima kelompok kemelekatan. Fenomena mental dan jasmani di dalam makhluk hidup adalah kelompok kemelekatan. Mereka bisa dicengkeram oleh hasrat dan disertai kesenangan, yang disebut ‘kemelekatan indera’, atau mereka bisa dicengkeram oleh pandangan salah, yang disebut ‘kemelekatan terhadap pandangan’.
Bermeditasi dan melihat mereka sebagaimana adanya. Jika tidak, anda akan mencengkeramnya dengan hasrat dan pandangan salah. Sekali anda melihat mereka sebagaimana adanya, anda tidak akan mencengkeram mereka lagi. Inilah caranya mengembangkan pandangan terang. Kita akan membahas lima kelompok kemelekatan secara terperinci.

Lima Kelompok Pencengkeraman

Yang disebut dengan lima kelompok pencengkeraman adalah: bentuk materi (rūpa), perasaan (vedanā), pencerapan (saññā), bentuk-bentuk pikiran (sankhāra), dan kesadaran (viññāna). Apakah mereka itu? Mereka adalah hal-hal yang anda alami sepanjang waktu. Anda tidak perlu pergi ke mana pun untuk mencari mereka. Mereka berada di dalam diri anda. Ketika anda melihat, mereka ada di dalam proses melihat. Ketika anda mendengar, mereka ada di dalam proses mendengar.
Ketika anda mencium, mengecap, menyentuh, atau berpikir, mereka ada di dalam proses mencium, mengecap, menyentuh, atau berpikir. Ketika anda menekuk, menjulurkan atau menggerakkan anggota tubuh anda, kelompok pencengkeraman berada di sana dalam proses menekuk, meluruskan atau bergerak. Hanya saja anda tidak mengenal mereka sebagai kelompok pencengkeraman karena anda belum pernah bermeditasi tentang mereka, dan tidak mengetahui mereka sebagaimana adanya. Karena tidak mengetahui mereka sebagaimana adanya, anda mencengkeram mereka dengan hasrat/pendambaan dan pandangan salah.
Apa yang terjadi ketika anda menekuk lengan anda? Ini bermula dari keinginan untuk menekuknya. Kemudian proses materi dari gerakan menekuk muncul setelah itu. Pada keinginan untuk menekuk lengan terdapat empat kelompok mental. Pikiran yang ingin menekuk adalah kesadaran. Ketika anda berpikir tentang menekuk lengan, anda mungkin merasa senang, tidak senang, atau netral dalam melakukannya. Jika anda melakukannya dengan kegembiraan, ada perasaan senang. Jika anda melakukannya dengan kurang gembira, ada perasaan tidak senang. Selain itu, maka perasaannya netral.
Sehingga ketika anda berniat menekuk lengan, kelompok perasaan berada di sana. Kelompok pencerapan mengenali atau mencerap proses menekuk. Bentuk-bentuk pikiran mendorong anda untuk menekuk lengan, seolah-olah berkata, “Tekuk! Tekuk!” Jadi dalam tindakan menekuk lengan, semua empat kelompok mental terlibat, yaitu: perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk pikiran, dan kesadaran. Gerakannya sendiri adalah kelompok materi, sehingga semuanya menjadi lima kelompok.
Dalam satu gerakan menekuk lengan, lima kelompok ini muncul. Setiap kali anda bergerak, lima kelompok ini muncul secara berulang-ulang. Setiap gerakan menimbulkan lima kelompok tersebut. Jika anda belum bermeditasi tentang mereka dengan benar, dan belum mengetahui mereka sebagaimana adanya, kami tidak perlu memberitahukan anda apa yang terjadi. Anda harus mengetahuinya sendiri. Apa yang anda pikirkan adalah “Aku ingin menekuk lengan, lalu aku menekuknya.” Bukankah begitu? Semua orang berpikir seperti itu. Tanyakan saja pada anak-anak, dan mereka akan memberikan jawaban yang sama. Tanyakan orang dewasa yang tidak mampu membaca atau menulis, dan dia akan memberikan jawaban yang sama.
Tanyakan orang seorang yang mampu membaca, dan dia akan memberikan jawaban yang sama. Jika ia telah banyak membaca, ia mungkin memberikan jawaban dengan bahasa kitab suci, menyebutkan mental (nāma) dan jasmani (rūpa), tetapi hal ini bukanlah apa yang dia ketahui sendiri, hanyalah apa yang telah ia baca. Apa yang sebenarnya ia pikirkan adalah, “Aku berniat menekuk lengan, lalu aku tekuk.
Aku berniat bergerak, lalu aku bergerak.” Ia juga berpikir,”Aku pernah melakukannya dulu, lakukan itu sekarang, dan aku akan melakukannya lagi.” Cara berpikir seperti ini adalah pemikiran tentang kekekalan. Tidak ada orang yang berpikir, “Keinginan untuk menekuk hanya ada sekarang.” Orang biasa selalu berpikir,” Pikiran ini telah ada sebelumnya. ‘Aku’ yang sama yang telah ada sebelumnya, sekarang berpikir mau menekuk lengan.” Mereka juga berpikir, “’Aku’ yang berpikir ini ada sekarang, dan akan terus ada.”
Ketika anda menekuk atau menggerakkan tangan dan kaki anda, anda berpikir, “Tangan dan kaki yang sama yang telah ada sebelumnya sedang bergerak sekarang. ‘Aku’ yang sama yang telah ada sebelumnya sedang menggerakkan tangan dan kaki sekarang.” Setelah menggerakkan tangan dan kaki, anda berpikir lagi, “Tangan dan kaki ini, dan ‘Aku’ ini selalu ada.” Tidak pernah terpikir oleh anda bahwa mereka semua lenyap. Ini juga adalah pemikiran tentang kekekalan. Ini artinya melekat pada apa yang tidak kekal dianggap kekal; melekat pada apa yang bukan orang atau diri, dianggap sebagai orang atau diri.
Setelah anda menekuk atau meluruskan lengan sesuai dengan keinginan anda, anda berpikir itu bagus. Contohnya, karena anda merasa lengan anda kaku, anda menggerakkannya dan rasa kaku hilang. Lalu anda merasa nyaman kembali. Anda berpikir itu bagus, dan merupakan sumber kebahagiaan. Penari menekuk dan meluruskan sambil menari, dan mereka bergembira dalam melakukan ini. Mereka menikmatinya dan merasa senang dengan diri mereka sendiri. Ketika anda berbincang-bincang, anda sering menggerakkan tangan, kaki dan kepala, lalu merasa senang, dan berpikir itulah kebahagiaan.
Ketika sesuatu yang anda lakukan menemui keberhasilan, anda berpikir itu bagus, dan merupakan sumber kebahagiaan. Inilah caranya anda bergembira dalam hasrat dan mencengkeram terhadap berbagai hal. Apa yang tidak kekal anda anggap kekal, lalu anda bergembira di dalamnya. Apa yang bukan kebahagiaan, bukan juga kepribadian, tetapi hanya merupakan kelompok mental dan jasmani, anda anggap sebagai kebahagiaan atau kepribadian, dan bergembira di dalamnya. Anda bergembira dan melekat pada kelompok-kelompok ini, dan mengira mereka itu adalah diri atau ego anda sendiri.
Ketika anda menekuk, meluruskan, atau menggerakkan anggota tubuh, berpikir bahwa ”Aku akan menekuk” adalah kelompok pencengkeraman. Menekuk adalah kelompok pencengkeraman. Meluruskan adalah kelompok pencengkeraman. Berpikir, ”Aku akan bergerak” adalah kelompok pencengkeraman. Bergerak adalah kelompok pencengkeraman. Ketika kita berbicara tentang kelompok pencengkeraman, yang seharusnya direnungkan/dimeditasikan, yang kami maksud hanyalah hal-hal di atas.
Hal yang sama terjadi dalam proses melihat, mendengar, dan seterusnya. Ketika anda melihat, landasan penglihatan – yaitu mata dan juga obyek yang dilihat, adalah manifestasi. Keduanya adalah kelompok materi. Mereka tidak dapat mengetahui. Jika seseorang tidak dapat bermeditasi sewaktu melihat, ia akan mencengkeram mereka. Ia berpikir bahwa seluruh tubuh dengan mata tersebut adalah kekal, bahagia, dan memiliki diri – jadi ia mencengkeramnya. Ia berpikir bahwa seluruh dunia materi dengan obyek yang terlihat tersebut adalah kekal, indah, bagus, bahagia, dan memiliki diri – jadi ia mencengkeramnya. Sehingga bentuk, mata, dan obyek yang terlihat disebut kelompok pencengkeraman.
Ketika anda melihat, “melihat” muncul. Hal ini mencakup empat kelompok mental. Menyadari ketika melihat adalah kelompok kesadaran (viññāna). Rasa senang atau tidak senang ketika melihat adalah kelompok perasaan (vedanā). Yang mencerap obyek adalah kelompok pencerapan (saññā). Yang membuat perhatian untuk melihat adalah kelompok bentuk-bentuk mental (sankhāra). Jika seseorang tidak bermeditasi sewaktu melihat, ia cenderung berpikir bahwa proses melihat tersebut sudah terjadi sebelumnya, dan sedang terjadi lagi sekarang. Atau saat seseorang melihat benda-benda yang indah, ia mungkin berpikir bahwa melihat adalah bagus.
Dengan berpikir demikian, seseorang selalu mencari benda-benda yang indah dan menarik untuk menikmati proses melihat. Seseorang pergi melihat perayaan dan menonton film, walaupun menghabiskan uang, menyita waktu, dan membahayakan kesehatan, karena ia berpikir hal tersebut menyenangkan. Kalau tidak, ia tidak akan menghabiskan waktu dan usahanya. Berpikir bahwa apa yang dilihat adalah “Aku” atau berpikir “Aku menikmatinya” itulah pencengkeraman pada proses melihat yang disertai dengan hasrat dan pandangan salah. Karena proses-proses di atas mencengkeram obyek, mental dan jasmani yang muncul pada saat melihat disebut dengan kelompok pencengkeraman.
Anda mencengkeram dengan cara yang sama ketika mendengar, mencium, mengecap, menyentuh, atau berpikir. Anda mencengkeram khususnya pada mental yang berpikir, mengkhayal, dan merenung – pada ego. Jadi lima kelompok pencengkeraman adalah hanya hal-hal mental dan jasmani yang muncul pada enam pintu indera bilamana seseorang melihat, mendengar, merasa, atau mencerap. Kita harus berusaha melihat kelompok-kelompok ini sebagaimana adanya. Bermeditasi dan melihat mereka sebagaimana adanya, itulah yang dimaksud pengetahuan pandangan terang.[7]
 Dalam gaya meditasi Vipassana kesadaran awalnya difokuskan pada naik dan turunnya nafas dan kemudian (saat respirasi hampir diskors dan pikiran dan hati masih) di kedua beberapa simbol sederhana (nyala lilin), bagian tubuh (ibu jari atau ujung hidung) atau konsep (yang diberikan salah satunya adalah tidak mungkin untuk membangkitkan gangguan emosional atau intelektual).
Satu sekolah sangat berpengaruh meditasi Buddha di abad ke-20 adalah Tradisi Hutan Thailand yang termasuk praktisi terkemuka seperti meditasi sebagai Ajahn Thate, Ajahn Maha Bua Ajahn Chah dan.
Di sekolah Mahayana Jepang, Tendai (Tien-tai), konsentrasi dibudidayakan melalui ritual yang sangat terstruktur. Terutama di sekolah Buddhisme Cina Chan (yang bercabang ke Zen Jepang, dan Korea Seon sekolah), ts'o Ch'an meditasi dan praktek-praktek meditasi koan memungkinkan praktisi untuk langsung mengalami sifat sejati dari realitas (masing-masing nama sekolah-sekolah ini berasal dari bahasa Sansekerta dhyana, dan diterjemahkan menjadi "meditasi" dalam bahasa masing-masing). Esoteris sekte Shingon saham banyak fitur dengan Buddhisme Tibet.
Para penyair haiku Jepang Basho melihat puisi sebagai suatu proses meditasi yang bersangkutan dengan seni menggambarkan penampilan singkat dari diri yang kekal, keabadian, dalam keadaan dunia.
Kami mendapatkan rasa tujuan ini etika dalam tulisannya pada saat dimulainya Jalan klasik karyanya Persempit ke Utara Deep. Dalam ziarah yang lebih kesepian dan mungkin lebih besar daripada yang digambarkan dalam Chaucer Canterbury Tales, Basho mencerminkan tentang kematian dalam puisi dan prosa bercampur saat ia perjalanan utara dari kuil ke kuil.
Buddhisme Tibet (Vajrayana) menekankan Tantra bagi para praktisi senior; maka nama alternatif nya Tantrayana Buddhisme.[8]
Vipassana Bhavana
1.EMPAT MACAM SATIPATTHANA[9]
            Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, objeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi), atau pancakhanda (lima kelompok faktor kehidupan). Ini dilakukan dengan memperhatikan gerak-gerik nama dan rupa terus menerus, sehingga dapat melihat dengan nyata bahwa nama dan rupa itu dicengkeram oleh anicca (ketidakkekalan), dukkha (penderitaan), dan anatta (tanpa aku).
            Pancakhandha (lima kelompok faktor kehidupan) terdiri atas: rupa- khandha (kelompok jesmani), vedana khandha (kelompok perasaan), sankhara-khandha (kelompok bentuk pikiran), dan vinanna-khandha (kelompok kesadaran). sesungguhnya, yang disebut pancakhandha itu adalah makhlik.
            Empat amcam satipatthana (empat macam perenungan) terdiri atas: kaya-nupassana (perenungan terhadap badan jesmani), vedana-nupasanna (perenungan terhadap perasaan), citta –nupassanana (perenungan terhadap pikiran), dan Dhamma-nupassana (perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran).
            Di sini direnungkan bentuk-bentuk pikiran dengan sewajarnya, direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima macam rintangan (nivarana), direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari lima kelompok faktor kehidupan (pancakkhandha), direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari enam landasan indiriya dalam dan luar (dua belas ayatana), direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari tujuh faktor Penerangan Agung (Satta Bojjhanga), dan direnungkan bentuk-bentuk pikiran dari empat Kesunyataan Mulia (Cattari Ariya Sacanni).
2.SEPULUH MACAM VIPASSANUPAKILESA
            Vipassanupakilesa berarti kekotoran batin atau rintangan yang menghambat perkembangan Pandangan terang, di dalam melaksanakan Vipassana Bhavana. Vipassanupakilesa ini ada sepuluh macam, yaitu:
1.      Obhasa ialah sinar-sinar yang gemerlap, yang bentuk dan keadaannya bermacam-macam, yang kadang-kadang merupakan pandngan yang menyenangkan.
2.      Piti ialah kegiuran, yang merupakan perasaan yang nyaman dan nikmat. Piti ada lima macam menurut keadaan, yaitu:
a.       khudaka Piti ialah kegiuran yang kecil, yang suasanya seperti bulu badan yang terangkat atau merinding.
b.      Khanika Piti ialah kegiuran yang sepintas lalu menggerakan badan.
c.       Okkantika piti ialah kegiuran yang menyeluruh yang suasananya meriang diseluruh badan seperti ombak laut memecah pantai.
d.      Ubbonga Piti ialah kegiuran yang mengakat, yang suasananya seolah-olah mengangkat badan naik ke udara.
e.       Pharana Piti ialah kegiuran yangmenyerap seluruh badan, yang suasananyaseluruh badan seperti teresap oleh perasaan yang menakjubkan.
3.      Pasadi, ialah ketenangan batin yang seolah-olah orang telah mencapai penerangan sejati.
4.      Sukha, ialah perasaan uang berbahagia, yang seolah-olah orang telah mencapai penerangan sejati.
5.      Saddha, ialah keyakinan yang kuat dan harapan agar setiap orang juga seperti dirinya.
6.      Paggaha  ialah usaha yang terlalu giat, yang lebih daripada semestinya.
7.      Upatthana, ialah ingatan yang tajam, yang sering timbul dan mengganggu perkembangan kesadaran, karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini.
8.      Nana, ialah pengetahuan yang sering timbul dan mengganggu jalannya praktek meditasi.
9.      Upekkha, ialah keseimbngan batin, dimana pikiran tidak mau bergerak untuk menyadari proses-proses yang timbul.
10.  Nikanti, ialah perasaan puas terhadap objek-objek.
Sepuluh macam vipassanupakilesa ini biasanya timbul dalam perkembangan Sammasana-Nana, yaitu nama yang ketiga.
3.EMPAT MACAM VIPALLASA-DHAMMA
Vipallasa-dhamma berarti kekhayalan, atau kepalsuan, atau kekeliruan yang berkenaan dengan paham yang menganggap sesuatu kebenaran sebagai sesuatu kesalahan dan kesalahan sebagai sesuatu kebenaran. Vipallasa-Dhamma ini ada empat macam dan dapat dibasmi dengan melaksanakan empat macam satipatthana.
Keempat macam Vipalassa-Dhamma itu ialah:
1.      Subha-Vipalassa yaitu kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang tidak cantik sebagai cantik. Subha-Vipalassa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan kaya-nupassana.
2.      Sukha-Vipalassa yaitu kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang di derita sebagai bahagia . Sukha-Vipalassa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan Vedana-nupassana.
3.      Nicca-Vipalassa yaitu kekeliruan dari oencerapan, oikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang tidak kekal sebagai akal. Bicca-Vipalassa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan citta-nupassana.
4.      Atta-Vipalassa yaitu kekeliruan dari pencerapan, pikiran, dan pandangan, yang menganggap sesuatu yang tanpa aku sebagai aku. Atta-Vipalassa ini dapat dibasmi dengan melaksanakan Dhamma-nupassana[10].

5.      Pedoman Untuk Meditator Vipassana
Hal-hal terpenting bagi seorang meditator.
            Lima hal terpenting bagi seorang meditator yang ingin menjalankan meditasi vipassana untuk mencapai kebahagian tertinggi adalah sebagai berikut:
a.       Pembimbing yang berkualitas
b.      Keyakinan yang teguh
c.       Disiplin yang baik
d.      Kejujuran sejati
e.       Ketekunan terus menerus.[11]
KESIMPULAN
Meditasi adalah membiasakan diri kita agar senantiasa mempunyai sikap yang positif, realistis, dan konstruktif. Dengan bermeditasi kita dapat membangun kebiasaan baik dari pikiran kita. Meditasi dilakukan dengan pikiran, artinya meskipun kita duduk dengan sikap sempurna, melaksanakan meditasi dalam waktu yang cukup lama, naming pikiran kita berlari kesana kemari dengan liar, dan memikirkan objek-objek kemelekatan, itu bukanlah meditasi.
            Meditasi Buddhis ada dua macam yakni,  sebagai berikut:
1.      Meditasi Samatha-Bhavana yakni meditasi untuk mencapai keterangan hidup. Dalam abad nuklir ini, dimana kehidupan terasa semakinkeras dan kompleks, memang sangat dibutuhkan meditasi samatha bhavana ini, untuk menghilangkan stress, frustasi dan untuk menciptakan ketenangan batin.
2.      Meditasi Vipassana-Bhavana, yakni mediatsi yang dapat membersihkan kekotoran bathin dan pikiran secara total, sehingga kita dapat mencapai pandangan terang.
Meditasi Buddhis pada dasarnya berkaitan dengan dua tema: mengubah pikiran dan menggunakannya untuk mengeksplorasi dirinya sendiri dan fenomena lain.Sang Buddha sejarah sendiri, Siddhartha Gautama, dikatakan telah mencapai pencerahan saat bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
Yang pertama terdiri dari praktek bertujuan untuk mengembangkan kemampuan untuk memfokuskan perhatian tunggal-tajam, yang terakhir termasuk praktek-praktek bertujuan untuk mengembangkan wawasan dan kebijaksanaan melalui melihat sifat sejati dari realitas.




DAFTAR PUSTAKA
Diputrha Okta, Meditasi I,( Jakarta: Vajra Dharma Nusantara, 2004).
Diputra Okta, Meditasi II, (Jakarta: Vajra Dharma Nusantara, 2004).
Dhammananda Sri, Meditasi untuk siapa Saja, (Jakarta: Pustaka Karaniya, 2003).
Hoay kwee Tek, Meditasi dan Sembahyang, (Jakarta, 1991).
http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx


[1] Okta Diputrha, Meditasi I, 2004.
[2] ibid
[3] http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
[4] Kwee Tek Hoay, Meditasi dan Sembahyang, 1991. h18
[5] Ibid.19
[6] ibid
[7] http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/dasar-dasar-meditasi-vipassana/
[8] http://www.news-medical.net/health/Meditation-Spirituality-and-Religion-(Indonesian).aspx
[9] Okta Diputhera, Meditasi II, 2002. h109-112
[10]Ibid114-116
[11] Sri Dhammananda, Meditasi untuk Siapa Saja, 2003. h113

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar